Kamis, 10 Februari 2011
Melatih Diri Menjadi Lebih Sabar
Peradaban modern melatih dan membuat kita selalu berkompetisi untuk menjadi lebih cepat. Apapun yang dilakukan dengan lebih cepat dan jika menghasilkan kesuksesan, akan menjadikan diri kita mendapatkan decak kagum dari orang lain. Yah begitulah tuntutan jaman modern yang serba cepat dan harus terburu-buru, sampai sampai kita tidak bisa melihat apa yang telah kita perbuat sampai detik ini. Bagi kita yang baru memulai karir baru di suatu perusahan, karena tuntutan kompetisi sudah harus memikirkan bagaimana memikirkan posisi atasan dalam 2 atau tiga tahun lagi. Bagi teman kita yang baru berumah tangga sudah harus memikirkan bagaimana cepat cepat punya anak atau bagi saudara kita yang baru menjadi pedagang, harus buru-buru mencari usaha baru yang lebih menguntungkan.
Tidak ada yang salah memang dengan kompetisi yang sangat cepat ini, hanya saja kalau kita larut didalamnya, kita akan mendapatkan diri kita berjalan sangat jauh, dan tidak bisa lagi mengingat makna dari tahapan yang kita lalui. Proses yang kita lalui akan menjadi gersang, dan kehilangan makna serta akan hilang dengan berjalannya fungsi waktu. Inilah apa yang disebutkan oleh orang tua perjalanan yang terburu-buru. Melihat makna dari langkah demi langkah yang kita jalani memerlukan sikap yang lebih sabar.
Tidak mudah menjadi sabar kalau kita tidak tahu apa yang harus kita sadari.Dalam Agama Hindu, sikap sabar dijabarkan begitu luhurnya dalam ajaran Panca Yama Brata. Sikap sabar hendaknya menjadi landasan spiritual didalam memandang masalah yang dihadapi. Orang yang sabar lebih banyak mendapatkan berkah dari yang tidak sabar. Tutur katanya akan dijaga dengan intonasi yang enak didengar. Ucapannya akan mengalir dalam wacika yang tidak mungkin akan menyakiti orang lain. Inilah yang akan membuat mereka yang sabar menjadi orang yang mulia dalam pemujaan kehadapan Hyang Widi, menyucikan sang Atman dalam diri dan diterima oleh orang lain karena ketulusannya.
Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk menjadi orang yang sabar dan bersyukur, tidak dengan ucapan ucapan yang mubazir, tetapi melalui praktek praktek spiritual yang melatih Panca Karmendria dan Panca Budindria menjadi seorang yang satwika. Inilah ajaran Hindu Diet Code yang sangat dikagumi.
Kalau kita telusuri lebih jauh, banyak faktor yang mempengaruhi kita menjadi orang yang tidak sabar. Karma Wasana kita masa lalu, Pengetahuan kita tentang tatwa, minimnya pratek spiritual dan Keterikatan kita yang sangat besar adalah beberapa hal diantaranya.
Karma wasana kita di masa lalu sangat menentukan pola kebribadian yang kita miliki. Orang yang berasal dari kelahiran utama akan terpatri dalam dirinya awidya yang sangat sedikit sehingga melahirkan pola kepribadian yang lebih sabar. Akan tetapi bagi kita yang mungkin berasal bukan dari kelahiran utama, mungkin akan terpatri sikap sikap yang menonjolkan Rajas atau Tamas. Ajaran Hindu yang sangat luhur menganjurkan agar kita tidak perlu mempermasalahkan dari mana kelahiran kita, yang lebih diutamakan adalah bagaimana melatih pola kepribadian kita menjadi lebih satwika. Disinilah melatih lidah dan pikiran dengan Sadana dan Kirtan sangat dianjurkan. Semakin sering kita menyebut samaranam Tuhan, semakin lembutlah hati, pikiran dan ucapan kita serta awidya dalam diripun akan menipis.
Pengetahauan kita tentang tatwa dan susila yang sangat minim adalah masalah kedua kenapa kita menjadi orang yang tidak sabar. Mungkin sebagian besar dari kita menganggap ini adalah pernyatan klise, akan tetapi pengalaman empiris di keseharian menunjukkan saudara saudara kita yang berjalan di dunia spiritual Hindu mempunyai kesabaran yang sangat mengagumkan. Tingkatan jnana kita dan praktek spiritual kita yang membedakan tingkatan kesabaran kita. Kalau kita tidak pernah menyadari di tingkat mana kecerdasan spiritual kita, maka selamanya kita akan menjadi orang yang kerdil. Kerdil dalam arti kebijaksanaan kita dalam menyelesaikan masalah sangat rendah. Tidak sedikit persoalan yang dihadapi harus diselesaikan dengan Hati Nurani, bukan dengan Logika yang mengedepankan benar dan salah. Kalau sudah menyangkut Hati Nurani, hanya orang yang sabar dan memiliki kecerdasan Jnana yang baiklah yang menjadi sukses. Kalau sudah begini, kapan kita akan mempelajari dan mempraktekkan jnana tentang tatwa dan Susila ?
Latihan latihan spiritual adalah faktor yang ketiga. Memliki Jnana yang sangat tinggi jika tidak dilatih dengan latihan latihan spiritual yang berkesinambungan bukannya menjadikan kita orang yang sabar dan rendah hati, akan tetapi membawa kita kedalam penonjolan kesombongan diri, dengan cirri sikap Rajas dan Tamas yang sangat kental. Kalau Rajas sudah sangat menonjol dalam sang diri, maka semua tindakan akan dilakukan atas dasar pembenaran diri. Tidak sedikit kita menjumpai anak anak muda kita memiliki Jnana yang baik tetapi larut dalam minuman keras dan sikap tamas lainnya. Oleh karena itu, melakukan praktek praktek spiritual dengan teratur, sangat dianjurkan karena akan melatih pola pikir, perkataan dan sikap yang rendah hati.
Faktor yang terakhir adalah keterikatan kita yang sangat besar akan segala hal. Seorang atasan dengan keterikatan jabatan dipundaknya cenderung menjadi orang yang lebih mudah marah dan tidak sabar. Demikian pula keterikatan seorang majikan atas pembatunya. Keterikatan yang terlalu besar kadang kadang membuat kita celaka karena semua dilakukan atas pembenaran diri. Oleh karena itu, Githa mengajak kita untuk melepaskan segala bentuk keterikatan agar kita menjadi orang yang rendah hati dan sabar. Menjadi orang yang bisa merasakan kesenangan dan kesedihan dalam kejernihan sang Atman, “Sama dukha dukha diram, moksartham ca iti darma”.
Dengan menyadari faktor faktor ini, Hindu mengajarkan tidak mudah melatih diri menjadi orang yang sabar. Diperlukan kejujuran, sikap mental dan semangat untuk berubah. Namun, ada satu hal yang sering disampaikan oleh para spiritual Hindu agar kita menjadi lebih Sabar. Mulalah dari pengendalian Lidah. Berilah lidah makanan yang banyak mengandung unsur Satvika. Latihlah bagian tubuh kita yang paling penting ini dengan mengucapkan nama nama Beliau setiap saat. Dengan memulai dua hal ini secara terus menerus dan konsisten, niscaya awidya dalam angga sarira menipis, dan kita menjadi orang yang rendah hati, lemah lembut, sabar serta mulia dihadapan Hyang Widhi dan sesama manusia.
Apakah Itu Cinta?
oleh: I Made Diarsana, 05 pebruari 2011
Om Swastyastu,
Umat Se-Dharma Yang Berbahagia, untuk lebih memahami makna cinta, kita mestinya bisa bercermin kepada reaksi dan keadaan yang ada di sekitar kita. Lihatlah bunga mawar, mungkinkah bunga mawar itu mengatakan: “Saya akan memberikan keharumanku hanya kepada orang yang berhati baik dan tidak kepada orang yang berhati jahat" ?. Dapatkan kita membayangkan sebuah lampu menolak bersinar karena akan dipakai oleh orang jahat ?. Lampu dapat melakukannya hanya kalau ia berhenti menjadi lampu. Lihatlah sebatang pohon tanpa pilih kasih memberikan tempat berteduh bagi setiap orang, baik dan buruk muda dan tua, tinggi dan rendah, kepada binatang, manusia,dan setiap makhluk hidup, bahkan kepada orang yang siap siap menebangnya. Jadi inilah sifat pertama dari CINTA yaitu tidak membeda-bedakan.
Sifat CINTA yang kedua adalah cuma-cuma atau tanpa pamrih. Seperti pohon, mawar dan lampu, cinta itu memberi dan tak meminta balas jasa. Betapa kita memandang rendah kepada pria yang memiliki istri bukan berdasarkan sifat yang dimiliki calon istri, melainkan jumlah uang yang dibawa sebagai mas kawinnya. Pria semacam itu hanya mencari keuntungan finansial yang dibawa wanita itu, bukan mencintai wanitanya.
Apakah cinta Anda berbeda bila Anda sendiri mencari teman yang memberikan kepuasan emosional dan menghindari yang tidak, bila kita bersifat baik kepada orang orang yang memenuhi keinginan dan harapan-harapan kita dan bersikap negatif dan tidak acuh terhadap mereka yang tidak? Dalam hal ini hanya ada satu yang kita perbuat untuk mencapai cinta yang tanpa pamrih itu, yaitu dengan jalan membuka mata dan melihat. Cukup melihat saja, menyingkapkan apa sesungguhnya yang selama ini kita sebut cinta. Apakah hanya sebagai kamuflase atas egoisme dan keserakahan kita saja?. Dengan melihat, kita mengambil langkah besar ke dalam Cinta yang tanpa pamrih.
Sifat CINTA yang ketiga adalah ketidak-sadaran diri. Cinta begitu membahagiakan, dengan mencintai, orang tidak sadar akan dirinya. Seperti lampu yang senantiasa bersinar tanpa perduli bermanfaat atau tidak. Seperti bunga mawar yang menebarkan keharumannya begitu saja tanpa peduli ada atau tidak orang yang mencium keharumannya. Seperti pohon yang memberikan keteduhan.
Cahaya, keharuman, dan keteduhan ada bukan karena ada manusia atau mati bila tidak ada manusia. Mereka ini, seperti juga cinta, lepas dari manusia. Cinta begitu saja ada, tanpa perlu memiliki obyek. Merekapun begitu saja ada, terlepas apakah mereka menguntungkan seseorang atau tidak. Jadi mereka tidak mempunyai kesadaran akan mendapatkan nilai atau berbuat baik.
Sifat terakhir dari CINTA adalah bebas. Saat paksaan, kendali, atau konflik muncul, cinta bisa mati. Pikirkan bagaimana pohon, mawar, dan lampu membiarkan kita sungguh-sungguh bebas. Pohon tidak akan berusaha menarik kita ke dekatnya untuk berteduh, biarpun kita berada di terik matahari. Lampu tidak akan memaksakan cahayanya biarpun kita sedang terseok-seok dalam kegelapan.
Pikirkan sejenak saat-saat ketika kita menyerah pada paksaan dan kendali orang lain, karena ingin bertindak sesuai dengan harapan mereka dalam usaha membeli cinta dan penerimaan dari mereka, atau karena kita takut kehilangan mereka. Setiap kali kita menyerah pada kendali dan paksaan, kita akan merusak kemampuan kodrati kita untuk mencintai, karena kita hanya dapat melakukan apa yang orang lain – dengan seijin kita – lakukan terhadap diri kita. Oleh karena itu renungkanlah semua kendali dan paksaan dalam hidup kita. Kiranya perenungan itu sendiri akan menghancurkan kendali dan paksaan. Saat paksaan dan kendali itu hilang, kebebasan akan muncul. Kebebasan adalah kata lain untuk CINTA.
Semoga berguna,
Om Santih, Santih, Santih, Om
Cara Bodoh Menyelamatkan Teman
Secara umum , selamat berarti lepas atau bebas dari kesulitan, kesusahan, mara-bahaya, penderitaan atau kesengsaraan yang dapat menyebabkan kematian. Tetapi selamat yang sesungguhnya berarti mukti, bebas atau lepas dari kehidupan material dunia fana yang menyengsarakan . Dan mukti ini hanya bisa dicapai apabila seseorang menyibukan diri dalam pelayanan bhakti kepada Tuhan Krisna. Beliau berkata,
” Mam dhyayante upasate tesam aham samudharta mrtyu-samsara sagarat, bagi dia yang selalu ingat padaKu dan memujaku, saya bebaskan dia dari samudra derita kelahiran-kematian kehidupan material dunia fana” (Bg.12.6-7)
Tetapi orang-orang yang disebut para jiva-bhuta kerkesadaran materialistik, mengerti selamat sebagai bebas atau lepas dari kemiskinan yaitu ketidakmapuan hidup mewah memuaskan indria jasmani yang kotor nafsu secara melimpah. Karena itu , menurut mereka menyelamatkan orang berarti membuat hidupnya senang dalam kemewahan material dunia fana.
Pendapat keliru dan sesat ini ditunjukan oleh kenyataan bahwa meskipun mereka sudah kaya raya dan hidup melimpah, namun mereka tidak pernah puas. Mereka terus bekerja keras mengumpulkan harta kekayaan karena hatinya dijangkiti penyakit serakah, sehingga mereka tidak pernah hidup tenang dan damai. Dengan kata lain, mereka tetap sengsara dan menderita.
Begitulah, menganggap kekayaan material sebagai alat penyelamat dari derita kehidupan fana adalah kebodohan belaka. Tetapi kebodohan yang amat nyata ini tidak disadari oleh orang-orang modern Kali-yuga yang menyatakan dirinya amat terpelajar dan paling beradab.
Begitulah, menganggap kekayaan material sebagai alat penyelamat dari derita kehidupan fana adalah kebodohan belaka. Tetapi kebodohan yang amat nyata ini tidak disadari oleh orang-orang modern Kali-yuga yang menyatakan dirinya amat terpelajar dan paling beradab.
Manusia yang berhakekat spritual sebagai jiva rohani nan abadi, tidak bisa dipuaskan dengan cara dan upaya material apapun. Ia akan puas dan bahagia hanya jikalau kembali tinggal di rumahnya asli yaitu alam kesuka-citaan rohani Vaikunta-loka, seperti halnya sang ikan tidak dipuaskan dengan cara apapun di darat. Sang ikan hanya akan puas dan bahagia jikalau ia dikembalikan ke tempat tinggalnya ayang asli yaitu air di sungai atau danau.
Karena itu menyelamatkan manusia dari derita kehidupan dunia fana dengan kekayaan material pada hakekatnya adalah menyelamatkan sang ikan dengan memberinya beraneka macam makanan di darat.
Kenyataan ini diungkapkan oleh cerita metaporik berikut:
Tersebutlah seekor Monyet yang bersahabat dengan se-ekor Ikan gabus. Sang monyet tinggal disatu telaga yang ada dibawah pohon tersebut. Mereka menikmati kehidupan masing-masing dalam kedamaian.
AkhirnSetaiap hari, setelah selesai dengan kegiatan mencari makan dan perut telah kenyang, mereka berdua berbincang-bincang tentang kehidupandi hutan dan kehidupan di air sambil bercanda ria. Sang minyet telah sepakat dengan si Ikan bahwa mereka akan saling bantu bilaman salah satu dari mereka menemui kesusahan dalam kehidupnya.
Pada suatu hari, hujan deras mengguyur wilayah hutan disana, sehingga terjadilah banjir. Air sungai terdekat meluap dan mnegenangi kedua tepinya. Si monyet berlindung dibawah dauan-daun rimbun di puncak pohon, melihat air dimana-mana. Ia tidak bisa membedakan mana sungai dan mana telaga. Sementara itu, air yang membanjir menghanjutkan banyak pohon kayu.
Pada suatu hari, hujan deras mengguyur wilayah hutan disana, sehingga terjadilah banjir. Air sungai terdekat meluap dan mnegenangi kedua tepinya. Si monyet berlindung dibawah dauan-daun rimbun di puncak pohon, melihat air dimana-mana. Ia tidak bisa membedakan mana sungai dan mana telaga. Sementara itu, air yang membanjir menghanjutkan banyak pohon kayu.
Sang monyet cemas. Ia takut kehilangan sahabat karibnya si Ikan gabus. Ia berdoa agar si Ikan tidak dihanyutkan oleh banjir.
Sang ikan memegang tangan si Monyet dengan giginya, dan seketika itu juga Monyet mengangkatnya dari dalam air, lalu menaruhnya diatas dahan diantara ranting-ranting yang ia telah jalin rapat dan rapi.
”Nah tinggal disini bersamaku”, kata si Monyet sambil menyodorkan banyak cacing dan ulat kepada sang ikan. Si Ikan hanya mengglepar-glepar menderita dan berteriak , ”Kawan aku susah bernafas, kembalikan aku segera ke air”.
Si Monyet bodoh menjawab, ”Aku takut kehilangan sahabat seperti dirimu. Aku sangat mencintaimu. Kembalilah nanti ke air setelah banjir surut. Bukankah telah kusediakan banyak makanan untukmu? Nikmatilah makanan ini!”
”Aku tidak bisa makan karena semakin susah bernafas. Tolong kembalikan aku segera ke air”, sang ikan terus protes. Tetapi si monyet tidak perduli pada penderitaan si Ikan. Sebab ia pikir dirinya telah berbuat yang benar dan mulia yakni menyelamatkan teman karib dari bencana banjir.
Demikianlah karena kebodohan, si Monyet menemukan sang Ikan keesokan harinya sudah kaku tidak bernyawa ketika hendak dikembalikan ke dalam air.
Langganan:
Postingan (Atom)